Kisah
Aulia Yang Tergelincir
Sebelum
anda membaca artikel ini cobalah melihat terlebih dahulu gambar - gambar di
bawah ini :
Ketika kita melihat
keadaan di dunia nyata seperti yang di
tampilkan pada gambar setiap orang pasti mengkritik/menilai sungguh kasihan sekali dia atau sungguh
terlaknat manusia itu atau sungguh manusia yang biadab.
Tetapi taukah anda
kritikan/penilaian anda terhadap seseorang tersebut dapat membuat anda
tergelincir kedalam hal yang belum pernah anda bayangkan. Loh kenapa seperti
itu ? iya memang seperti itu kita ini Hamba Allah dan mereka juga hamba Allah
lantas pantaskah kita menilai orang lain seperti itu sedangkan Allah sendiri
membuka pintu taubat bagi mereka apabila mereka ingin bertaubat.
Kita bisa menilai orang
lain kenapa ? karena kita merasa diri kita lebih baik dari mereka. Jikalau kita
sudah merasa lebih baik dari orang lain berarti hati kita sudah tumbuh benih -
benih kesombongan.
Pada masa Kaum Bani
Israil (Kaum Nabi Musa) hiduplah seorang Aulia yang sangat shaleh dan Sudah
mempunyai karomah yaitu kemanapun ia pergi Awan selalu memayunginya. Di sisi
lain hiduplah seorang preman yang sangat jahat dan sangat di benci oleh
Masyarakat.
Suatu hari Allah
menyadarkan dan memberi petunjuk kepada sang preman tersebut sehingga hati sang
preman tergugah untuk bertaubat dan kembali kejalan yang benar. Kemudian sang
preman mencari orang yang `alim yang bisa mengajarinya bagaimana bertaubat dan
bisa mengajarinya ilmu agama. Dia pun mendengar kisah ke `aliman seorang aulia
yang telah di ceritakan di atas. Sang aulia tersebut tinggal dan beribadah di atas sebuah gunung.
Kemudian preman
tersebut mencari gunung tersebut dan menemukannya sehingga ia pun naik ke
gunung tersebut ingin berjumpa sang aulia tersebut. Pas di tengah jalan preman
tersebut melihat Sang aulia tersebut sedang berjalan. Rupanya aulia tersebut
turun gunung untuk membeli perbekalannya yang telah habis. Melihat hal tersebut
sang preman duduk bertekuk lutut sambil tersirat dalam hatinya “Ya
Allah apakah sungguh hinakah aku sampai - sampai hambamu yang shaleh engkau
turunkan ia dari gunung supaya tidak berjumpa denganku hambamu yang penuh
berlumur dengan dosa penuh dengan kemaksiatan yang mengharap secercah keampunan
darimu”.
Aulia yang berjalan
tadi langsung berpapasan dengan preman yang sedang duduk bertekuk lutut sambil
meneteskan air mata. Mata sang aulia tak terelekkan untuk melihat sang preman
tetapi sayangnya aulia tersebut memandangnya dengan kehinaan dan dengan ujung
mata sembari tersirat dalam hatinya “Euh alangkah kasihan si preman ini hidup
dalam dosa dan sudah sewajarnya ia bertekuk lutut di hadapanku karena aku ini
orang shaleh telah bermunajat di gunung ini selama puluhan tahun”.
Setelah aulia tersebut
melewati sang preman Allah mencabut seluruh petunjuk yang ia Berikan untuk
Aulia tersebut dikarenakan pandangannya yang hina kepada preman yang juga hamba
Allah dan karena anggapannya ia lebih
baik dari sang preman serta penilaiannya yang sangat amat hina sehingga ia pun
terjerumus kedalam segala pebuatan maksiat. Sungguh malang nasib sang aulia
tersebut hanya karena goresan hatinya yang tidak baik Allah menergelincirkan ia
kedalam dosa dan kemaksiatan.
Oleh karenanya kita
selaku Umat Nabi Muhammad SAW. yang hidup di akhir zaman yang telah mendengar
berbagai kisah - kisah orang terdahulu salah satunya seperti cerita diatas marilah
kita menjaga hati dan lidah kita agar jangn mudah menilai orang lain karena
kita mampu berbuat kebaikan dan meninggalkan kejahatan itu semua karena
petunjuk dari Allah lantas apakah yang membuat kita sombong dengan menilai
orang lain dengan kehinaan.
SIKAP YANG TEPAT KETIKA
MELIHAT KEADAAN SEPERTI PADA GAMBAR
Sepatutnya ketika kita
melihat kejadian seperti yang nampak pada gambar kita berdoa kepada Allah “Ya
Alllah mereka itu umat Rasul Pilihanmu Ya Allah Engkau telah mencoba mereka ya
Allah sehingga mereka tergelincir kedalam lubang kemksiatan kedalam jurang
kehinaan kedalam parit dosa kedalam laut kenistaan maka ampunilah dan
sadarkanlah mereka ya Allah”.
Semoga
Allah selalu melindungi kita dari tergelincir hati dan lidah.
Sumber
:

No comments:
Post a Comment