Saturday, 17 December 2016

Cerita Sufi (Aulia Yang Tergelincir)



Kisah Aulia Yang Tergelincir
                Sebelum anda membaca artikel ini cobalah melihat terlebih dahulu gambar - gambar di bawah ini :




Ketika kita melihat keadaan di dunia nyata  seperti yang di tampilkan pada gambar setiap orang pasti mengkritik/menilai sungguh kasihan sekali dia atau sungguh terlaknat manusia itu atau sungguh manusia yang biadab.
Tetapi taukah anda kritikan/penilaian anda terhadap seseorang tersebut dapat membuat anda tergelincir kedalam hal yang belum pernah anda bayangkan. Loh kenapa seperti itu ? iya memang seperti itu kita ini Hamba Allah dan mereka juga hamba Allah lantas pantaskah kita menilai orang lain seperti itu sedangkan Allah sendiri membuka pintu taubat bagi mereka apabila mereka ingin bertaubat.
Kita bisa menilai orang lain kenapa ? karena kita merasa diri kita lebih baik dari mereka. Jikalau kita sudah merasa lebih baik dari orang lain berarti hati kita sudah tumbuh benih - benih kesombongan.
Pada masa Kaum Bani Israil (Kaum Nabi Musa) hiduplah seorang Aulia yang sangat shaleh dan Sudah mempunyai karomah yaitu kemanapun ia pergi Awan selalu memayunginya. Di sisi lain hiduplah seorang preman yang sangat jahat dan sangat di benci oleh Masyarakat.
Suatu hari Allah menyadarkan dan memberi petunjuk kepada sang preman tersebut sehingga hati sang preman tergugah untuk bertaubat dan kembali kejalan yang benar. Kemudian sang preman mencari orang yang `alim yang bisa mengajarinya bagaimana bertaubat dan bisa mengajarinya ilmu agama. Dia pun mendengar kisah ke `aliman seorang aulia yang telah di ceritakan di atas. Sang aulia tersebut   tinggal dan beribadah di atas sebuah gunung.
Kemudian preman tersebut mencari gunung tersebut dan menemukannya sehingga ia pun naik ke gunung tersebut ingin berjumpa sang aulia tersebut. Pas di tengah jalan preman tersebut melihat Sang aulia tersebut sedang berjalan. Rupanya aulia tersebut turun gunung untuk membeli perbekalannya yang telah habis. Melihat hal tersebut sang preman duduk bertekuk lutut sambil tersirat dalam hatinya “Ya Allah apakah sungguh hinakah aku sampai - sampai hambamu yang shaleh engkau turunkan ia dari gunung supaya tidak berjumpa denganku hambamu yang penuh berlumur dengan dosa penuh dengan kemaksiatan yang mengharap secercah keampunan darimu”.
Aulia yang berjalan tadi langsung berpapasan dengan preman yang sedang duduk bertekuk lutut sambil meneteskan air mata. Mata sang aulia tak terelekkan untuk melihat sang preman tetapi sayangnya aulia tersebut memandangnya dengan kehinaan dan dengan ujung mata sembari tersirat dalam hatinya “Euh alangkah kasihan si preman ini hidup dalam dosa dan sudah sewajarnya ia bertekuk lutut di hadapanku karena aku ini orang shaleh telah bermunajat di gunung ini selama puluhan tahun”.
Setelah aulia tersebut melewati sang preman Allah mencabut seluruh petunjuk yang ia Berikan untuk Aulia tersebut dikarenakan pandangannya yang hina kepada preman yang juga hamba Allah dan  karena anggapannya ia lebih baik dari sang preman serta penilaiannya yang sangat amat hina sehingga ia pun terjerumus kedalam segala pebuatan maksiat. Sungguh malang nasib sang aulia tersebut hanya karena goresan hatinya yang tidak baik Allah menergelincirkan ia kedalam dosa dan kemaksiatan.
Oleh karenanya kita selaku Umat Nabi Muhammad SAW. yang hidup di akhir zaman yang telah mendengar berbagai kisah - kisah orang terdahulu salah satunya seperti cerita diatas marilah kita menjaga hati dan lidah kita agar jangn mudah menilai orang lain karena kita mampu berbuat kebaikan dan meninggalkan kejahatan itu semua karena petunjuk dari Allah lantas apakah yang membuat kita sombong dengan menilai orang lain dengan kehinaan.
SIKAP YANG TEPAT KETIKA MELIHAT KEADAAN SEPERTI PADA GAMBAR
Sepatutnya ketika kita melihat kejadian seperti yang nampak pada gambar kita berdoa kepada Allah “Ya Alllah mereka itu umat Rasul Pilihanmu Ya Allah Engkau telah mencoba mereka ya Allah sehingga mereka tergelincir kedalam lubang kemksiatan kedalam jurang kehinaan kedalam parit dosa kedalam laut kenistaan maka ampunilah dan sadarkanlah mereka ya Allah”.
Semoga Allah selalu melindungi kita dari tergelincir hati dan lidah.

Sumber :
Ceramah Buya Yahya Pada Acara DAMAI INDONESIAKU di TVONE
Sumber Gambar :

No comments:

Post a Comment