Monday, 12 December 2016

Makalah Apresiasi Puisi



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan tugas ini dengan judul “APRESIASI PUISI”. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Makalah ini sangat cocok bagi pelajar mulai dari sekolah dasar hingga hingga universitas bahkan untuk kalangan umum yang tertarik pada bidang puisi.
Kami mengharapakan saran,kritik dari para pembaca yang bersifat membangun guna menyempurnakan makalah ini pada makalah – makalah lain yang akan datang dan kami berharap akan terlahir atau muncul  para pemikir, penulis atau cendekiawan yang berjalan seiring dengan kami.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan,di persingkat.dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).Kata-kata betul-betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Walaupun singkat atau padat,namun berkekuatan.Karena itu, salah satu usaha penyair adalah memilih kata-kata yang memiliki persamaan bunyi (rima).Kata-kata itu mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak.Karena itu,kata-kata dicarikan konotasi atau makna tambahannya dan dibuat bergaya dengan bahasa figuratif.Puisi tidak terlepas dari 2 hal yaitu: Struktur atau bentuk puisi dan tema serta amanat puisi. 
B.     Rumusan Masalah
A.    Pengertian puisi
B.     Apresiasi puisi
C.     Puisi untuk Diapresiasi
D.    Puisi Angkatan 45
C.    Tujuan
            Setelah membaca makalah ini mahasiswa diharapkan mampu memahami dengan baik bagaimana cara mengapresiasikan puisi.

    
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengetian Puisi
                  Secara etimologi istilah puisi berasal dari bahasa Yunani ”poeima” atau ”Poesis” yang berarti pembuatan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris disebut ”Poem” atau ”Poetry” yang berarti membuat atau pembuatan, karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
                  Definisi puisi cukup banyak, salah satu pendapat yang cukup mudah dipahami diantaranya mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya Sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa, yakni struktur fisik dan struktur batinnya ( Waluyo.1995:28, dalam buku Drs.Supriyadi, Mpd. Pembelajaran Sastra yang apresiatif dan Integratif dari SD 2006:44 ). Berdasarkan asal-usul istilah puisi dari atas dan berbagai pendapat para ahli, pengertian puisi dapat didefinisikan sebagai salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata, rima, dan irama sebagai media penyampaian untuk membuatkan ekspresi, ilusi dan imajinasi.
                  Bila dibandingkan dengan karya sastra fiksi atau drama, pilihan kata dalam puisi cenderung padat, singkat, imajinatif sehingga dikatakan mempunyai bentuk tersendiri. Penggunaan rima dan irama agar puisi lebih indah juga merupakan pembeda yang sangat signitifikan bola dibandingkan fiksi dan drama.
B.     Apresiasi Puisi
                  Apresiasi biasanya dikaitkan dengan kegiatan seni.Apresiasi puisi berkaitan dengan kegiatan yang ada sangkut-pautnya dengan puisi,yaitu mendengar atau membaca puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh,menulis puisi,mendaklamasikan,dan menulis resensi puisi. Kegiatan ini menyebabkan seseorang memahami puisi secara mendalam (dengan penuh penghayatan),merasakan apa yang ditulis penyair,mampu menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi,dan menghargai puisi sebagai karya seni dengan keindahan atau kelemahannya.
                  Dalum kamus Istilah sastra,Abdul Rozak Zaidan (1991) membatasi pengertian apresiasi puisi sebagai ”penghargaan atas puisi sebagai pengenalan,pemahaman,penafsiran,  penghayatan,dan penikmatan atas karya tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam puisi itu”.Dalam batasan ini syarat untuk dapat mengapresiasi adalah kepekaan batin terhadap nilai-nilai karya sastra,sehingga seseorang:
(1) mengenal
(2) memahami
(3) mampu menafsirkan
(4) mampu menghayati dan
(5) dapat menikmati karya sastra tersebut
     Disick (1975) menyebutkan adanya 4 tingkatan apresiasi,yaitu:
(1) tingkat menggemari,
(2) tingkat menikmati,
(3) tingkat mereaksi,
(4) tingkat produktif.
                  Jika seseorang baru sampai ke tingkat menggemari,berarti keterlibatan batinnya belum kuat.Dia baru sering terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan puisi.Jika ada puisi ia akan senang membaca.jika ada acara pembacaan puisi.Jika ada puisi,secara langsung atau berupa siaran tunda di televisi,ia akan menyediakan waktu untuk menontonnya jika ada lomba deklamasi ia akan melihat,dan seterusnya.
                  Pada tingkat menikmati, keterlibatan pembaca terhadap puisi sudah semakin mendalam. Pembaca akan ikut sedih,terharu,bahagia,dan sebagainya ketika membaca puisi.Pembaca atau pendengar pembacaan puisi mampu menikmati keindahan yang ada  dalam puisi itu secara kritis.
                  Pada tingkat mereaksi, sikap kriris lebih menonjol karena ia telah mampu menafsirkan dengan seksama dan mampu menilai baik-buruknya sebuah puisi.Penafsir puisi mampu menyatakan keindahan puisi dan menunjukkan dimana letak keindahan itu.Demikian juga,jika ia menyatakan kekurangan suatu puisi,ia akan mampu menunjukkan dimana letak kekurangan tersebut.
                  Pada tingkat produktif, apresiator puisi mampu menghasilkan(menulis),mengkritik, mendeklamasikan,atau membuat resensi terhadap sebuah puisi secara tertulis.dengan kata lain,ada produk yang dihasilkan oleh seseorang yang berkaitan dengan puisi.
C.    Puisi untuk Diapresiasi
                  Berikut ini akan ditampilkan puisi-puisi untuk diapresiasi.Diantaranya sebagai berikut:
1.      Puisi Lama
Dalam puisi ini kita mengenal gurindam,pantun,syair,dan talibun.Berikut hanya akan dijelaskan tentang gurindam, pantun,dan syair.
a.      Gurindam
Gurindam adalah jenis puisi lama yang terdiri atas dua baris,semuanya merupakan isi dan menunjukkan hubungan sebab akibat.Gurindam yang terkenal ditulis oleh Raja Ali Haji yang berjudul “Gurindam Dua Belas” yang terdiri atas dua belas pasal.kedua belas pasal tersebut berisi nasihat tentang agama, budi pekerti, pendidikan,moral, dan tingkah laku.
b.      Pantun
Pantun (yang searti dengan padi) adalah jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris memiliki rima (persamaan bunyi) / a b a b / , dengan baris pertama dan kedua merupakan sampiran (semacam teka-teki) dan baris ketiga dan empat merupakan isi. Berikut ini contoh pantun yang selesai satu bait.
                 Teritip di tepi kota
                 mari dikayuh sampai pengail
                 imam ketip lagi berdosa
                 bertambah pula kita yang jahil.
                           (perintis sastra, 1951)
c.       Syair
Syair berasal dari Arab yang artinya puisi (sajak).Dalam kesusastraan Indonesia,syair berarti puisi lama yang terdiri atas empat baris perbait, memiliki rima / a a a a /. Semua baris merupakan
isi dan biasanya tidak selesai dalam satu bait karena digunakan untuk bercerita.
                  Berikut ini diberikan contoh “Syair Ken Tambuhan” yang termasuk salah satu jenis syair dalam puisi melayu lama.
            Lalulah berjalan ken tambuhan
            Di iringkah penglipur dengan tadahan
            Lemah lembut berjalan perlahan-perlahan
            Lakunya manis member kasihan

            Tunduk menangis segala puteri
            Masing-masing berkata sama sendiri
            Jahatnya perangai permaisuri
            Lakunya seperti jin dan peri
(perintis sastra, 1951)
2.      Puisi Angkatan Pujangga Baru
Pada angkatan Pujangga Baru dikenal bentuk sonata yang berasal dari italia, dibawa ke Indonesia oleh Muhammad Yamin. Soneta terdiri atas 14 baris,yaitu tiga bait yang masing-masing terdiri atas empat baris dan satu bait terdiri atas dua bait.
Di samping puisi baru dan soneta, pada angkatan pujangga baru juga terdapat jenis-jenis puisi yang lebih bebas namun persamaan bunyi (rima) masih sangat di pentingkan.Berikut ini beberapa penyair Pujangga Baru beserta puisinya.
a.      Sanusi  Pane                                                                                                                            
Penyair Sanusi Pane dilahirkan di Tapanuli,14 November 1905. Dia banyak menulis naskah drama (Kertajaya, Airlangga, Damar Wulan, dan sandyakalaning Majapahit) dan kumpulan puisi (Puspa Mega, 1972 dan Madah Kelana, 1931) .
                  Berikut ini salah satu puisinya.
Dibawa Gelombang

Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah kemana aku tak tahu .
Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad-berabad,
Dengan damai mereka meninjau,
Kehidupan bumi, yang kecil amat .

Aku bernyanyi dengan suara,
Seperti bisikan angin di daun,
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralun-alun

Alun membawa bidukku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah ke mana aku tak tahu.
(Madah Kelana, 1931)
b.      Y.E. Tatengkeng
Oleh H.B. Jassin, Tatengkeng dinyatakan sebagai “Penyair Dewa Air Mata” karena puisi-puisinya berisi kesedihan yang disebabkan oleh kematian anak laki-lakinya. Buku kumpulan puisinya adalah Rindu Dendam (1934).
Puisi berikut berjudul “Anakku” yang berisi kesedihan yang penyair karena ditinggalkan sang anak. Namun penyair pada akhirnya menyadari bahwa Anak kami Tuhan berikan / Anak kami Tuhan panggilkan / Hati kami Tuhan hiburkan / Nama Tuhan kami pujikan
                       Anakku
Engkau datang menghintai hidup
Engkau datang menunjukkan muka
Tapi sekejap matamu kau tutup,
Melihat terang anakda tak suka
Mulut kecil tiada kaubuka,
Tangis teriakmu takkan diperdengarkan
Alamat hidup wartakan suka,
Kau diam, anakku, kami kau tinggalkan .
Sedikit pun matamu tak mengerling,
Memandang ibumu sakit berguling
Air matamu tak bercucuran,
Tinggalkan ibumu tak berpenghiburan.
Kau diam, diam, kekasihku ,
Tak kaukatakan barang pesanan ,
Akan penghibur duka didadaku,
Kekasihku, anakku, mengapa kian?
Sebagai anak melalui sedikit,
Akan rumah kami berdua,
Tak anak tak insyaf sakit,
Yang diderita orang tua.
Tangan kecil lemah tergantung,
Tak diangkat memeluk ibumu,
Menyapu dadanya, menyapu jantung
Hiburkan hatinya, sayangkan ibumu.
Selekas anaknda datang,
Selekas anakda pulang.
Tinggalkan ibu sakit terlintang ,
Tinggalkan bapa sakit mengenang.
Selamat datang anaknda kami ,
            Selamat jalan kekasih hati.
Anak kami Tuhan berikan,
Anak kami Tuhan panggilkan,
Hati kami Tuhan hiburkan,
Nama tuhan kami pujikan .
{Rindu Dendam, 1934}
D.    Puisi Angkatan 45
Dasar berdirinya Angkatan 45adalah Surat Kepercaan Gelanggang yang disusun dan ditandatangani oleh Chairil Anwar dan kawan-kawannya. Hal penting yang dinyatakan adalah bahwa bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lain di dunia; bahwa humanisme universal (rasa kemanusiaan yang universal) sangat penting; bahwa suku dan warna kulit bukan ukuran untuk menentukan keindonesiaan seseorang; dan bahwa ukuran untuk itu adalah wujud pernyataan hati.
Puisi-puisi Angkatan 45 menunjukkan kebaruan. Puisi-puisi Angkatan 45 mementingkan isi daripada bentuk. Bungkus tidak penting, kata Chairil Anwar, yang penting isinya. Karena itu puisi-puisi Angkatan 45 lebih bebas daripada puisi-puisi pujangga baru yang ketat dengan rima.
a.      Chairil Anwar
Chairil Anwar adalah penyair terbesar Angkatan 45. Majalah Tempo tahun 2000 menyebut Chairil Anwar adalah sebagai salah satu seorang dari 10 orang besar di Indonesia sepanjang abad XX (1901-1999). Menurut Sapardi Djoko Damono, kebesaran Chairil Anwar ditentukan oleh bahasa ciptaannya yang benar - benar baru.
 Berikut ditampilkan salah satu puisinya yang paling terkenal.
Aku

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang pun merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
            Aku mau hidup seribu tahun lagi       
                         (Kerikiltajam,1946)                                                               
b.      Waluyati
Dalam Angkatan 45 ada seorang penyaitr wanita bernama Waluyati yang lahir di Sukabumi tahun 1924. Puisi – puisinya dimuat dalam pujani (1951), Gema Tanah Air (H.B. Jassin, 1975), dan seserpih pinang sepucuk sirih (Toeti Heraty, 1979).
Berikut ditampilkan salah satu puisi Waluyati yang ditulisnya karena penyair putus cinta. Karena putus cinta tersebut penyair merasa sangat sedih dan membawa kenangan akan kekasihnya.
Berpisah
Bersama – sama bunga digubah
Menjadi rangkaian halis pewangi
dan pulang kita bersuka hati
di kala surya terbenam merah
Di jalan simpang kita berpisah
Gubahan bunga gemetar di tangan
dan sambil kita berpandangan
jatuh rangkaian, dua terbelah.
Kuambil seutas, setengah lagi
Kau pegang erat
Di kala senja kujalan sendiri
Hanyalah bunga, kau bawa lari
mengirimkan wanginya kearahku lagi
                              (Tonggak 1, 1987)

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
                  Apresiasi puisi adalah penghargaan atas puisi sebagai pengenalan, ,penafsiran,  penghayatan, dan penikmatan atas karya tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam puisi itu.
                  Apresiasi puisi berkaitan dengan kegiatan yang ada sangkut-pautnya dengan puisi,yaitu:
(1)  mendengar atau membaca puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh
(2) menulis puisi
(3) mendaklamasikan dan
(4) menulis resensi puisi.
                  Adapun puisi – puisi yang dapat diapresiasikan adalah:
(1) Puisi Lama, yang termasuk kedalam puisi lama ada 3 yaitu: gurindam, pantun, dan syair.
(2) Puisi Angkatan Pujangga Baru, adapun penyair – penyair yang termasuk kedalam Angkatan Pujangga Baru yaitu: Sanusi Pane dengan  puisinya Dibawa Gelombang dan Y.E. Tatengkeng dengan puisinya Anakku.
                  Puisi-puisi Angkatan 45 menunjukkan kebaruan. Puisi-puisi Angkatan 45 mementingkan isi daripada bentuk. Bungkus tidak penting, kata Chairil Anwar, yang penting isinya. Karena itu puisi-puisi Angkatan 45 lebih bebas daripada puisi-puisi pujangga baru yang ketat dengan rima.
                  Penyair – penyair Agkatan 45 ada beberapa orang, dua diantarnya adalah Chairil Anwar dengan puisinya Aku dan Waluyati dengan puisinya Berpisah.
  B.     Saran
                  Hendaknya pihak kampus khususnya pemerintahan mahasiswa untuk sering kali membuat kegiatan sastra dan seni seperti Apresiasi puisi guna untuk meningkatkan minat para mahasiswa bahasa indonesia dibidang puisi dan agar mahasiswa lebih dapat mengekpresikan bakatnya.
Daftar Pustaka
Waluyo, Hermanj. 2002,  Apresiasi Puisi, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.  Pradopo, Djoko Rachmat. 2005, Pengkajian Puis, Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press  
Sekapur Sirih Dari Pemilik Blog : Silahkan Untuk Membaca Artikel, Makalah, Dan Lain Sebagainya Agar Dapat Menambah Wawasan Anda Juga Di Izinkan Untuk Di Copas Dan Di Print/Cetak. Tetapi Cuman Satu Permintaan Pemilik Blog Agar Blog Ini Di Komentari Sehingga Kedepan Menjadi Semakin Baik. Wassalam. Semoga Sukses

 

No comments:

Post a Comment