KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah puji
syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, sehingga saya dapat menyelesaikan
pembuatan tugas ini dengan judul “APRESIASI
PUISI”. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia.
Makalah ini sangat
cocok bagi pelajar mulai dari sekolah dasar hingga hingga universitas bahkan
untuk kalangan umum yang tertarik pada bidang puisi.
Kami mengharapakan
saran,kritik dari para pembaca yang bersifat membangun guna menyempurnakan
makalah ini pada makalah – makalah lain yang akan datang dan kami berharap akan
terlahir atau muncul para pemikir,
penulis atau cendekiawan yang berjalan seiring dengan kami.
Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua.
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Puisi adalah karya
sastra dengan bahasa yang dipadatkan,di persingkat.dan diberi irama dengan
bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).Kata-kata betul-betul
terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan.Walaupun singkat atau padat,namun
berkekuatan.Karena itu, salah satu usaha penyair adalah memilih kata-kata yang
memiliki persamaan bunyi (rima).Kata-kata itu mewakili makna yang lebih luas
dan lebih banyak.Karena itu,kata-kata dicarikan konotasi atau makna tambahannya
dan dibuat bergaya dengan bahasa figuratif.Puisi tidak terlepas dari 2 hal
yaitu: Struktur atau bentuk puisi dan tema serta amanat puisi.
B.
Rumusan
Masalah
A. Pengertian
puisi
B. Apresiasi
puisi
C. Puisi
untuk Diapresiasi
D. Puisi
Angkatan 45
C.
Tujuan
Setelah membaca makalah ini
mahasiswa diharapkan mampu memahami dengan baik bagaimana cara mengapresiasikan
puisi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengetian
Puisi
PEMBAHASAN
Secara
etimologi istilah puisi berasal dari bahasa Yunani ”poeima” atau ”Poesis” yang
berarti pembuatan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris disebut ”Poem” atau ”Poetry”
yang berarti membuat atau pembuatan, karena lewat puisi pada dasarnya seseorang
telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau
gambaran suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Definisi puisi cukup banyak, salah satu pendapat yang
cukup mudah dipahami diantaranya mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya
Sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan
disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa, yakni struktur fisik
dan struktur batinnya ( Waluyo.1995:28, dalam buku Drs.Supriyadi, Mpd.
Pembelajaran Sastra yang apresiatif dan Integratif dari SD 2006:44 ).
Berdasarkan asal-usul istilah puisi dari atas dan berbagai pendapat para ahli,
pengertian puisi dapat didefinisikan sebagai salah satu cabang sastra yang
menggunakan kata-kata, rima, dan irama sebagai media penyampaian untuk
membuatkan ekspresi, ilusi dan imajinasi.
Bila dibandingkan dengan karya sastra fiksi atau drama,
pilihan kata dalam puisi cenderung padat, singkat, imajinatif sehingga
dikatakan mempunyai bentuk tersendiri. Penggunaan rima dan irama agar puisi
lebih indah juga merupakan pembeda yang sangat signitifikan bola dibandingkan
fiksi dan drama.
B.
Apresiasi
Puisi
Apresiasi
biasanya dikaitkan dengan kegiatan seni.Apresiasi puisi berkaitan dengan
kegiatan yang ada sangkut-pautnya dengan puisi,yaitu mendengar atau membaca
puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh,menulis puisi,mendaklamasikan,dan
menulis resensi puisi. Kegiatan ini menyebabkan seseorang memahami puisi secara
mendalam (dengan penuh penghayatan),merasakan apa yang ditulis penyair,mampu
menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi,dan menghargai puisi
sebagai karya seni dengan keindahan atau kelemahannya.
Dalum kamus
Istilah sastra,Abdul Rozak Zaidan (1991) membatasi pengertian apresiasi
puisi sebagai ”penghargaan atas puisi sebagai pengenalan,pemahaman,penafsiran, penghayatan,dan penikmatan atas karya
tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung
dalam puisi itu”.Dalam batasan ini syarat untuk dapat mengapresiasi adalah kepekaan batin terhadap nilai-nilai karya
sastra,sehingga seseorang:
(1) mengenal
(2) memahami
(3) mampu menafsirkan
(4) mampu menghayati dan
(5) dapat menikmati karya sastra tersebut
Disick
(1975) menyebutkan adanya 4 tingkatan apresiasi,yaitu:
(1) tingkat menggemari,
(2) tingkat menikmati,
(3) tingkat mereaksi,
(4) tingkat produktif.
Jika seseorang baru sampai ke tingkat
menggemari,berarti keterlibatan batinnya belum kuat.Dia baru sering terlibat
dalam kegiatan yang berkaitan dengan puisi.Jika ada puisi ia akan senang
membaca.jika ada acara pembacaan puisi.Jika ada puisi,secara langsung atau
berupa siaran tunda di televisi,ia akan menyediakan waktu untuk menontonnya
jika ada lomba deklamasi ia akan melihat,dan seterusnya.
Pada tingkat menikmati,
keterlibatan pembaca terhadap puisi sudah semakin mendalam. Pembaca akan ikut
sedih,terharu,bahagia,dan sebagainya ketika membaca puisi.Pembaca atau
pendengar pembacaan puisi mampu menikmati keindahan yang ada dalam puisi itu secara kritis.
Pada tingkat mereaksi,
sikap kriris lebih menonjol karena ia telah mampu menafsirkan dengan seksama
dan mampu menilai baik-buruknya sebuah puisi.Penafsir puisi mampu menyatakan
keindahan puisi dan menunjukkan dimana letak keindahan itu.Demikian juga,jika
ia menyatakan kekurangan suatu puisi,ia akan mampu menunjukkan dimana letak
kekurangan tersebut.
Pada tingkat
produktif, apresiator puisi mampu menghasilkan(menulis),mengkritik,
mendeklamasikan,atau membuat resensi terhadap sebuah puisi secara
tertulis.dengan kata lain,ada produk yang dihasilkan oleh seseorang yang
berkaitan dengan puisi.
C.
Puisi
untuk Diapresiasi
Berikut ini akan ditampilkan puisi-puisi untuk
diapresiasi.Diantaranya sebagai berikut:
1.
Puisi
Lama
Dalam puisi ini kita
mengenal gurindam,pantun,syair,dan talibun.Berikut hanya akan dijelaskan
tentang gurindam, pantun,dan syair.
a.
Gurindam
Gurindam adalah jenis
puisi lama yang terdiri atas dua baris,semuanya merupakan isi dan menunjukkan
hubungan sebab akibat.Gurindam yang terkenal ditulis oleh Raja Ali Haji yang
berjudul “Gurindam Dua Belas” yang terdiri atas dua belas pasal.kedua belas
pasal tersebut berisi nasihat tentang agama, budi pekerti, pendidikan,moral,
dan tingkah laku.
b.
Pantun
Pantun (yang searti
dengan padi) adalah jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris memiliki
rima (persamaan bunyi) / a b a b / , dengan baris pertama dan kedua merupakan sampiran
(semacam teka-teki) dan baris ketiga dan empat merupakan isi. Berikut ini
contoh pantun yang selesai satu bait.
Teritip di tepi kota
mari dikayuh sampai pengail
imam ketip lagi berdosa
bertambah pula kita yang
jahil.
(perintis sastra,
1951)
c.
Syair
Syair berasal dari Arab
yang artinya puisi (sajak).Dalam kesusastraan Indonesia,syair berarti puisi
lama yang terdiri atas empat baris perbait, memiliki rima / a a a a /. Semua
baris merupakan
isi dan biasanya tidak selesai dalam satu bait karena
digunakan untuk bercerita.
Berikut ini diberikan contoh “Syair Ken
Tambuhan” yang termasuk salah satu jenis syair dalam puisi melayu lama.
Lalulah berjalan ken tambuhan
Di iringkah penglipur dengan
tadahan
Lemah lembut berjalan
perlahan-perlahan
Lakunya manis member kasihan
Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri
(perintis sastra, 1951)
2.
Puisi
Angkatan Pujangga Baru
Pada angkatan Pujangga
Baru dikenal bentuk sonata yang berasal dari italia, dibawa ke Indonesia oleh
Muhammad Yamin. Soneta terdiri atas 14 baris,yaitu tiga bait yang masing-masing
terdiri atas empat baris dan satu bait terdiri atas dua bait.
Di samping puisi baru
dan soneta, pada angkatan pujangga baru juga terdapat jenis-jenis puisi yang
lebih bebas namun persamaan bunyi (rima) masih sangat di pentingkan.Berikut ini
beberapa penyair Pujangga Baru beserta puisinya.
a.
Sanusi Pane
Penyair Sanusi Pane
dilahirkan di Tapanuli,14 November 1905. Dia banyak menulis naskah drama (Kertajaya, Airlangga, Damar Wulan, dan sandyakalaning Majapahit) dan kumpulan
puisi (Puspa Mega, 1972 dan Madah Kelana, 1931) .
Berikut ini salah satu puisinya.
Dibawa
Gelombang
Alun membawa bidukku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah kemana aku tak tahu .
Jauh di atas bintang kemilau
Seperti sudah berabad-berabad,
Dengan damai mereka meninjau,
Kehidupan bumi, yang kecil amat .
Aku bernyanyi dengan suara,
Seperti bisikan angin di daun,
Suaraku hilang dalam udara
Dalam laut yang beralun-alun
Alun membawa bidukku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah ke mana aku tak tahu.
(Madah Kelana, 1931)
b.
Y.E.
Tatengkeng
Oleh H.B. Jassin,
Tatengkeng dinyatakan sebagai “Penyair Dewa Air Mata” karena puisi-puisinya
berisi kesedihan yang disebabkan oleh kematian anak laki-lakinya. Buku kumpulan
puisinya adalah Rindu Dendam (1934).
Puisi berikut berjudul
“Anakku” yang berisi kesedihan yang penyair karena ditinggalkan sang anak.
Namun penyair pada akhirnya menyadari bahwa Anak
kami Tuhan berikan / Anak kami Tuhan panggilkan / Hati kami Tuhan hiburkan /
Nama Tuhan kami pujikan
Anakku
Engkau datang menghintai hidup
Engkau datang menunjukkan muka
Tapi sekejap matamu kau tutup,
Melihat
terang anakda tak suka
Mulut kecil tiada kaubuka,
Tangis teriakmu takkan diperdengarkan
Alamat hidup wartakan suka,
Kau
diam, anakku, kami kau tinggalkan .
Sedikit pun matamu tak mengerling,
Memandang ibumu sakit berguling
Air matamu tak bercucuran,
Tinggalkan
ibumu tak berpenghiburan.
Kau diam, diam, kekasihku ,
Tak kaukatakan barang pesanan ,
Akan penghibur duka didadaku,
Kekasihku,
anakku, mengapa kian?
Sebagai anak melalui sedikit,
Akan rumah kami berdua,
Tak anak tak insyaf sakit,
Yang
diderita orang tua.
Tangan kecil lemah tergantung,
Tak diangkat memeluk ibumu,
Menyapu dadanya, menyapu jantung
Hiburkan
hatinya, sayangkan ibumu.
Selekas anaknda datang,
Selekas
anakda pulang.
Tinggalkan ibu sakit terlintang ,
Tinggalkan
bapa sakit mengenang.
Selamat datang anaknda kami ,
Selamat jalan
kekasih hati.
Anak kami Tuhan berikan,
Anak kami Tuhan panggilkan,
Hati kami Tuhan hiburkan,
Nama tuhan kami pujikan .
{Rindu
Dendam, 1934}
D.
Puisi
Angkatan 45
Dasar berdirinya
Angkatan 45adalah Surat Kepercaan Gelanggang yang disusun dan ditandatangani
oleh Chairil Anwar dan kawan-kawannya. Hal penting yang dinyatakan adalah bahwa
bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lain di dunia; bahwa humanisme universal
(rasa kemanusiaan yang universal) sangat penting; bahwa suku dan warna kulit
bukan ukuran untuk menentukan keindonesiaan seseorang; dan bahwa ukuran untuk
itu adalah wujud pernyataan hati.
Puisi-puisi Angkatan 45
menunjukkan kebaruan. Puisi-puisi Angkatan 45 mementingkan isi daripada bentuk.
Bungkus tidak penting, kata Chairil Anwar, yang penting isinya. Karena itu
puisi-puisi Angkatan 45 lebih bebas daripada puisi-puisi pujangga baru yang
ketat dengan rima.
a.
Chairil
Anwar
Chairil Anwar adalah
penyair terbesar Angkatan 45. Majalah Tempo
tahun 2000 menyebut Chairil Anwar adalah sebagai salah satu seorang dari 10
orang besar di Indonesia sepanjang abad XX (1901-1999). Menurut Sapardi Djoko
Damono, kebesaran Chairil Anwar ditentukan oleh bahasa ciptaannya yang benar -
benar baru.
Berikut ditampilkan salah satu puisinya yang
paling terkenal.
Aku
Kalau sampai
waktuku
Ku mau tak
seorang pun merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu
sedan itu
Aku ini
binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang
Biar peluru
menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa
kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan
lebih tidak perduli
Aku mau hidup
seribu tahun lagi
(Kerikiltajam,1946)
b.
Waluyati
Dalam Angkatan 45 ada seorang penyaitr wanita bernama Waluyati yang
lahir di Sukabumi tahun 1924. Puisi – puisinya dimuat dalam pujani (1951), Gema
Tanah Air (H.B. Jassin, 1975), dan seserpih pinang sepucuk sirih (Toeti Heraty,
1979).
Berikut ditampilkan
salah satu puisi Waluyati yang ditulisnya karena penyair putus cinta. Karena
putus cinta tersebut penyair merasa sangat sedih dan membawa kenangan akan
kekasihnya.
Berpisah
Bersama – sama
bunga digubah
Menjadi
rangkaian halis pewangi
dan pulang kita
bersuka hati
di kala surya terbenam merah
Di jalan
simpang kita berpisah
Gubahan bunga
gemetar di tangan
dan sambil kita
berpandangan
jatuh rangkaian, dua terbelah.
Kuambil seutas,
setengah lagi
Kau pegang erat
Di kala senja
kujalan sendiri
Hanyalah bunga,
kau bawa lari
mengirimkan
wanginya kearahku lagi
(Tonggak 1, 1987)
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
PENUTUP
Apresiasi puisi adalah
penghargaan atas puisi sebagai pengenalan, ,penafsiran, penghayatan, dan penikmatan atas karya
tersebut yang didukung oleh kepekaan batin terhadap nilai-nilai yang terkandung
dalam puisi itu.
Apresiasi puisi berkaitan
dengan kegiatan yang ada sangkut-pautnya dengan puisi,yaitu:
(1) mendengar atau membaca puisi dengan
penghayatan yang sungguh-sungguh
(2)
menulis puisi
(3)
mendaklamasikan dan
(4)
menulis resensi puisi.
Adapun puisi – puisi yang
dapat diapresiasikan adalah:
(1)
Puisi Lama, yang termasuk kedalam puisi lama ada 3 yaitu: gurindam, pantun, dan
syair.
(2)
Puisi Angkatan Pujangga Baru, adapun penyair – penyair yang termasuk kedalam
Angkatan Pujangga Baru yaitu: Sanusi Pane dengan puisinya Dibawa Gelombang dan Y.E. Tatengkeng
dengan puisinya Anakku.
Puisi-puisi Angkatan 45
menunjukkan kebaruan. Puisi-puisi Angkatan 45 mementingkan isi daripada bentuk.
Bungkus tidak penting, kata Chairil Anwar, yang penting isinya. Karena itu
puisi-puisi Angkatan 45 lebih bebas daripada puisi-puisi pujangga baru yang
ketat dengan rima.
Penyair – penyair Agkatan 45
ada beberapa orang, dua diantarnya adalah Chairil Anwar dengan puisinya Aku dan
Waluyati dengan puisinya Berpisah.
B. Saran
Hendaknya pihak kampus
khususnya pemerintahan mahasiswa untuk sering kali membuat kegiatan sastra dan
seni seperti Apresiasi puisi guna untuk meningkatkan minat para mahasiswa
bahasa indonesia dibidang puisi dan agar mahasiswa lebih dapat mengekpresikan
bakatnya.
Daftar
Pustaka
Waluyo, Hermanj. 2002, Apresiasi
Puisi, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Pradopo, Djoko Rachmat. 2005, Pengkajian Puis, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Sekapur
Sirih Dari Pemilik Blog : Silahkan Untuk Membaca Artikel, Makalah, Dan Lain
Sebagainya Agar Dapat Menambah Wawasan Anda Juga Di Izinkan Untuk Di Copas Dan
Di Print/Cetak. Tetapi Cuman Satu Permintaan Pemilik Blog Agar Blog Ini Di
Komentari Sehingga Kedepan Menjadi Semakin Baik. Wassalam. Semoga Sukses
No comments:
Post a Comment