Sunday, 11 December 2016

perkembangan peserta didik



PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK USIA SEKOLAH MENENGAH
A.    Perkembangan Fisik  
Peserta didik usia 12 – 19 tahun merupakan periode remaja transisi, yaitu transisi antara masa kanak – kanak dan usia dewasa. Periode ini masa perubahan yang sangat besar. Selama periode ini pertumbuhan fisik, emosional, dan intelektual terjadi dengan kecepatan yang memusingkan menantang peserta didik sebagai remaja untuk menyesuaikan diri dengan bentuk tubuh baru, identitas social, dan memperluas pandangannya tentang dunia.
Perubahan tersebut merupakan pengalaman tersendiri bagi remaja. Dalam rentang beberapa tahun ini peserta didik mempersiapkan diri menjadi anggota masyarakat dewas yang mandiri dan berkontribusi kepada masyarakat. Dimensi perkembangan psikoseksual pun mengalami pematangan yang luar biasa.
Perkembangan hormone bertanggung jawab dari pengembangan dari ke dua karakteristik seks baik karakteristik seks primer maupun sekunder.
 Selama masa kanak – kanak, laki – laki menghasilkan hormone endrogen sama dengan perempuan menghasilkan hormone estrogen. Waktu pubertas merupakan hasil dari kombinasi factor genetic, lingkungan, dan kesehatan.
Percepatan pertumbuhan pada wanita biasanya dimulai anatar 10 dan 14 tahun dan berakhir pada usia 16 tahun. Sedangkan pada anak laki – laki biasanya dimulai usia 10 – 16 tahun dan berakhirpada usia 18 tahun.
Perubahan yang dihasilkan pada masa pubertas dapat berefek luas pada tubuh anak remaja. Gadis remaja dan anak laki – laki sama – sama meningkat tinggi dan berat badannya, muncul kecanggungan umum, naik dan turun suasana emosional, tmbuh jerawat dan sebagainya. Perubahan yang drastic ini, termasuk pematangan seksual, dapat menjadi sumber kecemasan besar dan frustasi bagi mereka.
A.    Masalah Kesehatan
Masalah kesehatan remaja sering berkolerasi dengan status social ekonomi yang rendah, pola makan yang buruk, dan perawatan kesehatan yang tidak memadai mengambil kegiatan yang berisiko, masalah kepribadian, dan gaya hidup. Namun demikian pada masa remaja ini mereka cenderung sehat, meskipun masalah kesehatan utama dapat saja muncul. Tiga kemungkinan masalah kesehatan utama yaitu gangguan makan, Penyalahgunaan zat, Depresi .
§  Gangguan makan
Gangguan makan sering muncul akibat keasyikan dengan makanan. Keasyikan dengan makanan ini berdampak paling umum dikalangan remaja yaitu obesitas (kegemukan). Diseluruh dunia, sekitar 15 – 20 % remaja mengalami obesitas (kegemukan).
Kebiasaan mengurangi makanan untuk menghindari kegemukan pun bisa berbahaya, yaitu dapat menyebabkan anoreksia nervosa (kelaparan) . Diseluruh dunia sekitar 20 % anak berada dibawah berat badan idealnya. Dari jumlah itu sekitar 1 % gadis – gadis mengalami anoreksia dan 2 hingga 8 % dari mereka akhirnya mati kelaparan.
Erat kaitannya dengan anoreksia adalah bulimia nervosa, berupa gangguan yang mengikuti pola pembersihan makanan yang sudah dimakan.
§  Depresi
Sebanyak 40 % remaja memiliki masa depresi, jenis gangguan mood yang ditandai dengan perasaan harga diri rendah dan tak berharga, hilangnya minat dalam aktifitas kehidupan, serta perubahan pola makan dan tidur. Depresi remaja sering disebabkan oleh perubahan hormon, tantangan hidup, dan/ masalah penampilan. Perempuan remaja lebih banyak menderita depresi/stress berat dibandingkan laki – laki remaja.
§  Penyalahgunaan zat
Beberapa remaja termasuk peserta didik menyalahgunakan zat atau obat – obatan terlarang untuk menghindari rasa sakit, menghilangkan stress/depresi, atau untuk solidaritas dengan rekan – rekannya yang merupakan satu per – geng – an tertentu. Bahkan, sebagai symbol mereka sudah dewasa, pengggunaan alcohol atau tembakau/nikotin sudah menjadi kebiasaan karena mudah diperoleh dan relative terjangkau.
C.    Perkembangan Kognitif
Kebanyakan peserta didik mencapai tahap operasi formal versi piaget pada usia sekitar 12 tahun atau lebih, dimana mereka mengembangkan alat baru untuk memanipulasi informasi. Pada fase sebelumnya saat mereka masih anak – anak mereka hanya bisa memikirkan hal – hal yang konket. Ketika mereka memasuki formal mereka bisa memikirkan hal – hal yang abstrak dan deduktif.
Titik puncak atau jatuh tempo perkembangan kognitif terjadi ketika peserta didik sudah memasuki usia dewasa dan jaringan social makin berkembang. Ketika itu kemampuan otak dan jaringan social menawarkan lebih banyak kesempatan dibandingkan dengan fase sebelumnya untuk bereksperimen.
Banyak hasil studi yang menunjukkan bahwa kemampuan rasional yang abstrak dan kritis berkembang melalui proses pendidikan dan pembelajaran, serta pelatihan secara kontinyu.
PENGEMBANGAN INTELEKTUAL
Menurut Robert Sternberg, kecerdasan terdiri dari tiga aspek atau dikenal ddengan triarkis teori yaitu : compenential, experiential, dan contextual. Kompenensial adalah aspek kritis, pengalaman adalah aspek berwawasan, dan kontekstual adalah aspek praktis.
Lebih jauh dapat di jelaskan bahwa kecerdasan kompenensial bermakna kemampuan untuk menggunakan strategi pemrosesan informasi internal ketika peserta didik mengidentifikasi dan berpikir tentang pemecahan masalah dan mengevaluasi hasil. Individu yang kuat dalam kecerdasan kompenesial umumnya memperoleh hasil baik pada tes mental standar.
Kecerdasan eksperensial adalah kemampuan mentransfer pembelajaran secara efektif untuk memperoleh keterampilan baru.
Kecerdasan kontekstual adalah kemampuan untuk menerapkan kecerdasan praktis, termasuk memiliki kepedulian social, budaya dan konteks historis.
PENGEMBANGAN MORAL  DAN PENILAIAN
Sisi lain perkembangan kognitif peserta didik usia sekolah menengah adalah pengembanagn moral dan penimbangan atau tentang kemampuan berpikir tentang benar atau salah.
Lawrence Kohlberg mengemukakan suatu teori perkembangan moral manusia (termasuk peserta didik, bukan) dengan tiga tingkat yang terdiri dari enem tahap.
           ·          Tingkat pertama, Moralitas prakontevional harus dilakukan dengan alasan moral dan perilaku didasarkan pada aturan dan takut dihukum (tahap 1) dan kepentingan non – empatetik diri sendiri (tahap 2).
           ·          Tinkat kedua, moralitas konvensional, mengacu pada kesesuaian dan membantu orang lain (tahap 3), serta mematuhi hukum dan menjaga ketertiban (tahap 4)
           ·          Tingkat ketiga, moralitas pasca konvensional, terkait dengan sifat relative menerima dan berubah dari peraturan dan perundang – undangan (tahap 5), serta mengarahkan
Sebagian pengembangan moral peserta didik tergantung pada munculnya empati, rasa malu, dan rasa bersalah. Internalisasi moralitas dimulai dengan rasa empati atau kemampuan untuk memposisikan diri dengan rasa sakit atau sukacita orang lain.
Sebagai bukti bahwa peserta didik meningkat kemampuan kognitifnya, mereka mau menimbang konsekuensi dari sudut kepentingan pribadi dan kepentingan orang – orang di sekitar mereka.
Carol Gilligan mencatat bahwa pria cenderung lebih peduli pada keadilan, sedangkan wanita kebanyakan bersandar ke kasih sayang. Perbedaan ini paling sering muncul dalam keadaan dimana laki – laki dan perempuan membuat penilaian moral.
PENCARIAN UNTUK IDENTITAS: USIA 12 – 19 TAHUN
Peserta didik yang memasuki usia remaja berarti mereka berada pada periode transisi antara masa kanak - kanak dan dewasa.
Peneliti carol Gilligan dan Deborah Tannen ternyata menemukan perbedaan dalam cara – cara dimana laki – laki dan perempuan mencapai identitas itu. Gilligan mencatat bahwa perempuan utamanya mencari keintiman hubungan sedangkan laki – laki mengejar kemandirian dan prestasi.
D.    Orientasi Seksual Dan Seksualitas
Peserta didik pada usia sekolah menengah berusaha secara total menemukan satu identitas, berupa perwujudan orientasi seksual, yang tercermin dari hasrat seksual, emosional, romantis, dan atraksi kasih sayang kepada anggota jenis kelamin yang sama atau berbeda atau keduanya.
Pada tahun 1940 – an dan 1950 – an, Alfred Kinsey dan rekan – rekannya bahwa orientasi seksual manusia ada di sepanjang kontinum.
Baru – baru ini, peneliti telah menemukan bukti bahwa factor pembelajaran social dapat memunculkan pemahaman tertentu mengenai homoseksualitas.
Di Amerika serikat statistic kekinian membuktikan bahwa usia rata – rata remaja melakukan hubungan seksual pertama adalah antar 16 – 17 tahun. Dalam berhubungan seks itu, sebagian mereka menggunakan alat kontrasepsi secara teratur dan sebahagian lagi tidak.
Anak usia remaja yang menikah menghadapi masalah yang sama. Penting di catat oleh peserta didik dan guru, bahwa sekitar 50 % anak remaja yang menikah harus berjuang secara financial sama seperti ibu lainnya. Tidak mengherankan pula pernikahan remaja yang di landa kemiskinan, lagi – lagi karena pendidikan terbatas dan daya penghasilan yang sangat lemah.
E.     Kenakalan Remaja
Tekanan teman sepermainan atau rekan yang sangat selama masa remaja, kadang – kadang  begitu banyak sehigga remaja terlibat dalam tindakan – tindakan antisocial berupa kenakalan remaja. Seringkali tindakan ini dilakukan menerpa kepada anak – anak di bawah umur. Ada 2 kategori kenakalan remaja.
1.      Anak – anak yang melakukan kejahatan dan dihukum sesuai dengan aturan hukum, seperti perampokan.
2.      Anak – anak yang melakukan tindakan pidana yang biasanya tidak dianggap sebagai criminal, seperti membolos. Remaja laki – laki biasanya lebih banyak melakukan kenakalan di bandingkan remaja perempuan .
Kemungkianan peserta didik usia remaja menjadi remaja nakal lebih banyak di tentukan oleh kurangnya pengawasan orang tua dan disiplin ketimbang status social ekonomi. Pemberontakan remaja dapat tumbuh dari ketegangan antara keinginan remaja untuk memenuhi kebutuhan secara segera dan desakan orang tua agar menunda keinginan tersebut. Orang tua yang tidak mampu melakukan pengawasan dan mensosialisasikan disiplin diri dan menakar kemampuan diri biasanya menimbulkan masalah bagi anak – anaknya di kemudian hari. Guru pun mestinya ikut mempersuasi anak agar sebisa mungkin menghindari tindakan lebih besar pasak dari tiang itu.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. Sudarwan Danim. (2014). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Alfabeta 

3 comments: